Islam vs Kemalasan

Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Share on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInDigg this

Oleh: Wakit Prabowo

Islam adalah agama yang mengajarkan semangatbekerjaInilah sebagian bukti bahwa Islam mengajarkan umat manusia untuk senantiasa bersemangat dan tidak bermalas-malas.

 

Islam adalah agama yang kaffah. Dalam Islam, semua persoalan hidup manusia sudah diatur dan diberikan solusi yang mengandung ajaran kebenaran bagi kehidupan seluruh umat manusia. Dan tidak akan pernah bertentangan dengan penemuan dan teori penemuan manusia yang paling mutakhir. Islam sejak jauh hari lebih maju dan tidak pernah ketinggalan zaman dari semua kemajuan yang pernah dicapai umat manusia, sampai kapan pun.

 

Bagaimana Islam melihat fenomena kemalasan dalam diri manusia? Islam sejak lama memberikan “rambu-rambu lampu kuning” untuk masalah ini. Islam memberikan perhatikan besar. Contoh, doa agar terbebas dari kemiskinan , kefakiran dan lilitan utang:  “Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas...” (HR. Abu Dawud).  Ternyata, isi doa ini bukanlah “secara spesifik” agar diberi pekerjaan, rezeki melimpah, hasil pekerjaannya melimpah, uang banyak. Ternyata tidak. Tetapi kita dituntun untuk berdoa agar terbebas dari kemalasan.

 

Dalam doa-doa lain, misalnya doa minta kekayaan, adakah redaksinya: ”Ya Allah, berilah hamba uang.” Tidak ada yang demikian. Tetapi dalam hal ini Islam mengajarkan kita untuk berkonsentrasi penuh dalam wilayah sebab, dengan doa yang intinya permohonan agar terbebas dari kemalasan.

 

Benarlah pola retorika yang diajarkan Islam. Pertama mengajari kita membentuk pola pikir tidak istan. Artinya, Islam mengajarkan untuk bersabar dan mengikuti aturan yang mensyaratkan bagi keberhasilan. Berarti kita sebenarnya dilarang meminta akibat. Akan tetapi secara menahan diri dituntun untuk setiti agar lebih dahulu menyempurnakan proses atau penyebab keberhasilan. Bukankah sebab akan membentuk akibat? Jika sebabnya baik, akibatnya juga baik, dan sebaliknya. Jika prosesnya baik, hasilnya juga memuaskan.

 

Dalam lingkup lebih luas, tengok kembali Ummul Kitab, QS. Al-Fatihah yang menjadi conclusionisi Al-Quran. Dalam QS Al-Fatihah, manusia dituntun oleh Allah bukan untuk minta kebahagiaan secara langsung, atau meminta surga. Tetapi redaksinya: Ihdinashshiraathal mustaqiim ….. Yakni permintaan agar diberikan jalan lurus dan dihindarkan dari jalan  mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Apakah jalan itu sebuah tujuan? Bukan. Jalan berarti proses yang harus dilewati untuk mengantarkan seseorang ke tujuan tertentu. So, jalan di sini kita maknai bukan pada wilayah akibat. Jalan merupakan sebab untuk mendapatkan kebahagiaan.

 

Begitu luar biasanya ajaran Islam. Ajarannnya tidak hanya terang-terangan menunjukkan kebenaran, tetapi mengajak kita untuk secara kritis dan kreatif berpikir di balik ungkapan-ungkapan firman-Nya yang maha benar. Sehingga untuk konteks ini, kita akan terbebas dari cara berpikir instan. Yakni hanya melulu aspek akibat saja, akan tetapi mengajak kita masuk ke dalam aspek sebab. Sehingga energi yang kita keluarkan tidak hanya terfokus dan terkuras ke target atau hasil, melainkan penyempurnaan proses menjadi urgen dan keharusan. Ternyata inilah inti bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil.

 

Wilayah sebab dapat kita raih dan sempurnakan dengan semangat melakukan aksi terbaik agar tercapai tujuan. Islam adalah agama yang mengajarkan semangat bekerja. Inilah sebagian bukti bahwa Islam mengajarkan umat manusia untuk senantiasa bersemangat dan tidak bermalas-malas. Dalam sebuah hadis dinyatakan, “Allah Subhanahu wa ta’ ala mencela sikap lemah, tidak bersungguh-sungguh, tetapi kamu harus memiliki sikap cerdas dan cekatan, namun jika kamu tetap terkalahkan oleh suatu perkara, maka kamu berucap, ‘Cukuplah Allah menjadi penolongku, dan Allah sebaik-baik pelindung’.” (HR. Abu Dawud, hadis ini dinilai lemah oleh Al-Albani)

 

Inilah salah satu bukti bahwa Islam agama yang menekankan semangat dalam menjalani kehidupan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan dan teladan paling sempurna yang diturunkan Allah untuk umat manusia, beliau mencontohkan dalam hidupnya semangat menjalani hidup. Tidak ada satu pun aktivitas Nabi bermalas-malasan. Meski beliau ditugasi oleh Allah Subhanahu wa ta’ ala untuk menyebarkan agama ke muka bumi, tetapi beliau tidak meninggalkan bekerja. Beliau tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, karena beliau mempunyai keluarga.

 

Hendaknya kita sebagai umat Islam meneladani kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat jauh dari bermalas-malasan. Tetap mengobarkan semangat menjalani kehidupan. Konsep semangat adalah bahwa manusia diciptakan dan dalam “kesemangatan”  untuk kehidupan di dunia maupun akhirat. Allah Subhanahu wa ta’ ala pun lebih menyukai orang kuat daripada orang lemah. Orang malas simbol orang lemah: lemah agamanya, lemah ekonominya, lemah pendidikannya, lemah tali silaturahimnya, lemah kekuasaannya. Bukankah ujung semua kelemahan itu adalah kemalasan seseorang untuk berusaha dan bekerja agar bisa menjadi kuat? Untuk itu sebenarnya kemalasan dapat kita pahami merupakan sikap yang dibenci Allah, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa malas, dan apabila engkau ditimpa sesuatu maka katakanlah, ‘Qodarulloh wa maa syaa’a fa’al,’ Telah ditakdirkan oleh Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” (HR. Muslim)
[Majalah Cetak Pengusaha Muslim Indonesia] Pengusahamuslim.com